Jam’u Jawami’ al- Mushannafat - Kitab Hidayat al-‘Awam
Jam’u Jawami’ al- Mushannafat - Kitab Hidayat al-‘Awam
(Bismillahirrahmanirrahim) Alhamdulillahi rabbil ‘alamin wal ‘aqibatu lil muttaqin washshalatu wassalamu ‘ala sayyidina Muhammad sayyidil mursalin wa imamil muttaqin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du. Pada saat kerajaan Aceh dipimpin oleh Sultan Alaiddin Ahmad Syah Johan, tepatnya pada tanggal 5 Muharram 1140 H, Sultan meminta salah seorang qadhinya yang bernama Syekh Jalaluddin untuk menulis sebuah risalah yang kemudian diberi nama Hidayat al-‘Awam. Risalah tersebut membahas tentang berbagai perintah dalam agama Islam, di antaranya perintah shalat lima waktu dan segala hal yang berhubungan dengannya, baik syarat dan semua yang wajib diketahui.
Ketahuilah wahai penuntut ilmu, apabila seseorang telah baligh, maka syara’ menuntutnya untuk mengenal rukun 15 yang mengandung ma’rifat kepada Allah swt, terdiri dari 5 rukun Islam, 6 rukun iman dan 4 rukun syahadah. Lima rukun Islam; pertama, mengucap dua kalimah syahadat dengan lidah dan membenarkan maknanya dalam hati, yaitu ( asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuluhu ) (aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang layak disembah melainkan Allah swt dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad hamba dan Rasul-Nya); kedua, mendirikan shalat lima waktu; ketiga, memberi zakat harta jika telah sampai nisabnya; keempat, puasa pada bulan Ramadhan; kelima, naik haji ke Mekah jika ia mampu melakukan perjalanannya.
Enam rukun iman; pertama, beriman kepada Allah swt; kedua, percaya kepada malaikat-Nya; ketiga, percaya pada semua kitab-Nya; keempat, percaya kepada Rasul-Nya; kelima, percaya kepada hari akhir; keenam, percaya pada nasib baik dan buruk dari Allah swt.1 Empat rukun syahadat; pertama, mengitsbatkan zat Allah swt; kedua, mengitsbatkan sifat Allah swt; ketiga, mengitsbatkan af’al Allah swt, keempat, mengitsbatkan kebenaran Rasulullah saw. Jumlah rukun 15 di atas berasal dari empat pokok agama yaitu iman, Islam, tauhid, dan ma’rifah. Jika tidak ada salah satu dari empat hal tersebut, maka tidak dinamakan mukmin, muslim, muwahhidin dan ‘arif. Makna mukmin adalah mengiktikadkan dalam hati bahwa Allah swt adalah Tuhan yang sebenar-benarnya disembah. Makna Islam, menjunjung segala titah Allah swt dan Rasulullah saw. Makna tauhid, mengesakan Allah swt, sifat dan perbuatan-Nya. Makna ma’rifat menurut ahli ushuluddin, mengetahui segala yang wajib bagi Allah swt, yang jaiz dan yang mustahil bagi-Nya, demikian pula semua hak Rasul. Apabila pada seseorang tidak ada salah satu dari hal tersebut, maka belum sempurna agama baginya, tidak sah ketaatan dan ibadatnya kepada Allah swt dan Rasul-Nya.
=========================================================================
1Nasib baik di sini bermakna iman dan taat, sedangkan nasib buruk adalah kufur dan maksiat.

